MAMPUKAH KITA MENCINTAI TANPA SYARAT

20 02 2008

Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja 
bahkan sudah mendekati malam,pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi 
dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. mereka 
menikah sudah lebih 32 tahun 

Mereka dikarunia 4 orang anak disinilah awal cobaan menerpa,setelah 
istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa 
digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh 
tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah 
tidak bisa digerakkan lagi. 
 
Setiap hari pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian. 
 
Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya 
tersenyum, untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari 
rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan 
siang. sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan 
selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan 
apa2 saja yg dia alami seharian. 

> Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, pak
> suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap 
berangkat tidur. 

> Rutinitas ini dilakukan pak suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar
> dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah. 
 
Pada suatu hari ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan pak suyatno memutuskan ibu mereka dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil. 
 
Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata ” Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak………bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu” . 
 
dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya “sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya,         kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”. 
 
Pak suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2 mereka.” 
Anak2ku ……… Jikalau perkawinan & hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah……tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian.. sejenak kerongkongannya tersekat,… kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat menghargai dengan apapun. coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti Ini. kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yg masih sakit.” Sejenak meledaklah tangis anak2 pak suyatno merekapun melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata ibu suyatno..  dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu..       Sampailah akhirnya pak suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi :place nara :City sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa2.. disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru   disitulah pak Suyatno bercerita.
         > “Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya,
         > tetapi tidak mau memberi ( memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian ) adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya,
         > dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu2.. 

Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama..dan itu 
merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk 
mencintainya apa adanya. sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya 
apalagi dia sakit,,,” 

Adakah seseorang lagi yang mampu mencintai istrinya seperti itu, sedalam itu, setulus itu?





Treat every love as if it is your last chance to love and be loved

20 02 2008

kisah tentang cinta dan komitmen, arti mencintai yang tidak hanya sebatas di bibir, tidak hanya sebatas terdengar di telinga….cerita ini dikutip dari email seorang teman (Thanks ya Linceu…)

Sejak semula, keluarga dari si gadis tidak menyetujui hubungannya  dengan
sang pemuda. Mereka mengajukan alasan mengenai latar belakang  keluarga, bahwa  jika si gadis memaksa terus bersama dengan sang pemuda,dia  akan menderita seumur  hidupnya…..

Karena tekanan dari keluarganya, si gadis jadi sering bertengkar dengan pacarnya.  Gadis itu benar2 mencintainya, dan dia terus-menerus bertanya, “Seberapa  besar kamu mencintaiku?”

Sang pemuda tdk begitu pandai berbicara, dia selalu membuat si gadis
marah.  Dan komentar-komentar dari orangtuanya membuatnya bertambah
kesal.
Sang pemuda  selalu menjadi sasaran pelampiasan kemarahannya. Dan  sang pemuda selalu  membiarkannya melampiaskan kemarahannya kepadanya….

Setelah beberapa saat, sang pemuda lulus dari perguruan tinggi. Ia
bermaksud  meneruskan kuliahnya ke luar negeri, tapi sebelum dia pergi,
dia melamar  gadisnya, “Saya tidak tahu bagaimana mengucapkan kata2 manis, tapi saya tahu  bahwa saya mencintaimu. Jika kamu setuju, saya ingin menjagamu seumur  hidupmu.
Mengenai keluargamu, saya akan berusaha keras untuk meyakinkan  mereka agar menyetujui hubungan kita.  Maukah kamu menikah denganku?”
Si gadis setuju,  dan keluarganya setelah melihat usaha dari sang pemuda, akhirnya merestui hubungan mereka.  Sebelum pemuda itu berangkat,
mereka bertungan terlebih dahulu. Si gadis tetap  tinggal di kampung
halaman dan bekerja, sementara sang pemuda meneruskan kuliahnya di LN…..

Mereka melanjutkan hubungan mereka melalui surat dan telepon. Kadang-kadang timbul kesulitan, tapi mereka tidak menyerah terhadap keadaan.

Suatu hari, dalam perjalanan ke tempat perhentian bis sepulang dari kerja,
si gadis tertabrak mobil hingga tak sadarkan diri. Ketika siuman,  dia melihat kedua orangtuanya dan menyadari betapa beruntungnya dia dapat selamat.

Melihat  air mata orangtuanya, dia berusaha untuk menghibur mereka. Tetapi
dia menemukan… bahwa dia tidak dapat berbicara sama sekali. Dia bisu…..  Menurut dokter kecelakaan tersebut telah mencederai otaknya, dan itu menyebabkannya bisu seumur hidupnya. Mendengar orangtuanya membujuknya, tapi tidak dapat  menjawab sepatah kata pun, gadis  tersebut pingsan… Sepanjang hari hanya dapat  menangis dan membisu…

Ketika akhirnya dia boleh pulang dari RS, dia mendapati rumahnya masih seperti sedia kala.  Hanya jika telepon berdering, dia menjadi pilu.
Dering telepon telah menjadi mimpi terburuknya.  Dia tidak dapat
memberitakan kabar buruk tersebut kepada pacarnya dan menjadi bebannya.
Dia  menulis sepucuk surat untuknya, memberitahukan bahwa dia tdk mau
lagi menunggunya.

Hubungan antara mereka sudah putus, bahkan dia mengembalikan cincin
pertunangan mereka. Mendapat surat dan telepon dari si pemuda, dia hanya
bisa  menitikkan air mata…

Ayahnya tidak tahan melihat penderitaannya, dan memutuskan untuk  pindah. Berharap bahwa dia dapat melupakan segalanya dan menjadi lebih  bahagia…

Pindah ke tempat baru, si gadis mulai belajar bahasa isyarat. Dia berusaha  melupakan sang pemuda…  Suatu hari sahabatnya memberitahukan
bahwa pemuda itu telah kembali dan mencarinya ke mana-mana. Dia meminta sahabatnya untuk tidak memberitahukan di mana dia berada dan menyuruh pemuda tsb. untuk melupakannya….  Lebih dari setahun,  tidak terdengar lagi kabar pemuda itu sampai akhirnya sahabat si gadis menyampaikan bahwa sang pemuda akan menikah dan menyerahkan surat undangan. Dia membuka surat undangan itu dengan hati pedih, dan menemukan namanya tercantum  dlm undangan.  Sebelum dia sempat bertanya kepada sahabatnya, tiba-tiba sang pemuda muncul di hadapannya.

Dengan bahasa isyarat yang kaku, ia menyampaikan bahwa…. Aku telah
menghabiskan waktu lebih dari setahun untuk mempelajari bahasa isyarat,
agar dapat  memberitahukan kepadamu bahwa aku belum melupakan janji  kita, berikan aku kesempatan,  biarkan aku menjadi suaramu.

“I L O V E Y O U”

Melihat bahasa isyarat tersebut, dan cincin pertunangannya…. Si gadis akhirnya tersenyum bahagia.

————————————————————————-

Perlakukan setiap cinta seakan cinta terakhirmu… dan baru kamu akan
belajar cara  memberi…..

Perlakukan setiap hari seakan hari terakhirmu….. dan baru kamu akan
belajar cara  menghargai……

Jangan pernah menyerah.

  Yakinlah pada dirimu ketika kamu berkata: ?

” ….Aku mencintaimu …”