Story Part 4

Freya menggeliat dari tidurnya, sambil menguap ia meregangkan tubuhnya. hangat hangat sinar matahri pagi dibalik gordyn menembus masuk. Freya terhenyak dari tidurnya, ditariknya gordyn itu dan langsung ia menutupnya kembali sambil memicingkan matanya.  Dengan panik diambilnya jam disamping meja tidurnya menunjukkan jam 9 tepat. Freya terlonjak dari meja tidurnya bergegas menuju kamar mandi. Mandi ukuran pas foto alias muka doang.

Kuliah pertama di semester 4, kesiangan gara-gara semalem kebanyakan baca komik. freya melaju dengan Mio hitamnya, tapi tetap tidak membantu hasilnya tetap terlambat!. Inilah sisi negatif ia mengambil mata kuliah ngga bareng “friends”, ga bisa rame rame berangkat dan yang paling fatal adalah ga ada yang bangunin freya untuk kuliah.

Sebetulnya untuk satu mata kuliah yang bareng angkatan atas ini Freya bareng dengan dida, tapi dida kebetulan tidak satu kosan. Tepat saat Freya sampai ke ruang kuliah, tiba tiba pintu ruangan terbuka dan para mahasiswa berhamburan keluar. Buset! udah bubar ! Freya celingukan.

“Frey! sini!” Suara dida muncul dari keramaian, menarik lengan Freya yang sebetulnya saat itu masih mencari-cari arah suara Dida. Dida menarik freya masuk ke ruang kuliah yang sudah mulai sepi.

“apaan sih pake tarik-tarik sgala!” Freya melepaskan cengkeraman tangan dida.

“Udah deh ga usah rewel! Dengerin gw, gw ada berita bagus!”

“apa?”

“Kuliah perdana tadi langsung dapet tugas!”

“Eh gila! sejak kapan kalo kuliah ada tugas jadi berita bagus buat lo” potong freya sambil memiringkan tangan di jidatnya

“ini tugasnya kelompok”

“so?”

“1 kelompok berempat, kita bareng DREY dan Tian!”

Freya terduduk sambil menggaruk garauk rambutnya yang ngga gatel. Masih teringat jelas bagaimana semua “friends”-nya memojokan Freya cuma gara-gara Freya bilang baju Drey ngga nyambung.

“Tapi hari ini Drey juga ngga kuliah, cuma tian yang ada, tapi tian udah pergi ada urusan, tian minta tolong gw kasih tau”

freya mengangkat kedua tangannya ” gw ga ikutan!”

“eits ga bisa gitu Frey, ini Pak Bambang sendiri, dosen kita yang pilih kelompoknya, deadline 2 hari lagi, ga ada waktu lagi”

“So?”

“Gw sama tian janji ketemu di perpustakaan untuk ngerjain tugas itu, tapi sekarang gw mesti ke sanggar dulu, jadi tugas kasih info ke Drey gw serahkan ke elu!”

Tiba-tiba Freya merasa mules, ” kenapa mesti gw sih? Gw udah lupa mukanya gw cuma ketemu sekali yang gw inget cuma rambutnya gondrong, kan dikampus ini banyak yang gondrong..aduh please lu ke sanggar besok aja deh…?”

Dida tidak memperdulikan Freya ” Ingat yah jam 3 di perpustakaan pusat lobby kiri”

Sia-sia sudah negosiasi Freya. Artinya sekarang ia harus mencari mahluk bernama Drey. dida sudah menghilang sejak beberapa menit lalu, freya masih terduduk lemas. Freya menghela nafas menguatkan hatinya untuk beranjak. Dan niatnya terhenti saat sebuah bayangan masuk ke ruangan itu, freya menoleh ke arah bayangan itu.

“Kuliah Crypto disini, udah selesai?” pemilik bayangan tadi bertanya.

Masih dalam duduknya, Freya menatap orang itu ” Sudah selesai dari tadi ”

“Punya catatanya ?”

“Hmm, gw juga ngga kuliah kok tadi, telat!”

Orang yang bertanya tadi duduk tepat disamping Freya.Diam…

Freya menoleh, kali ini jarak antar mereka sangat dekat, dan Freya baru menyadari ternyata mahluk disampingnya sekarang adalah Drey!

“kamu, Ka drey?”

lelaki itu menoleh, tersenyum tipis hingga matanya agak menyipit “ya, kenapa”

Freya hampir hampir tersihir senyum Drey hingga gelagapan menjawab ” eh, ini kebetulan aku dapet tugas kasih info kalo kita 1 kelompok, dan nanti kerja kelompok di perpustakaan pusat jam 3″. Lega rasanya Freya bisa menuntaskan kalimatnya tanpa terbelit lidah.

Drey mengambil secarik kertas dari tasnya, lalu menuliskan nomor hape di atasnya ” Ini no hape aku, sampe ketemu nanti yah”. drey menyelipkan secarik kertas itu ke tangan Freya.

ENtahlah kali ini Freya merasa mules di perutnya semakin menjadi. Freya mencari hp dalam tasnya lalu ia mencoba menghubungi Dida. Nada sambung terdengar tapi belum juga ada jawaban….hingga terdengar ringtone “apakata dunia” semakin mendekat.

“Wuoy, ngapain telpon gw? Dari tadi masih  disini aja, yuk gw temenin cari Drey!

“telat lu, gw dah kasi tau tadi!”

” Cieeeeeeeeee, hebat euy. Oke kan?”

“apanya?”

“orangnyalah….”

“dia tadi nyemperin gw tapi gw ga ngeh, seinget gw waktu itu gondrong, tapi tadi dia potong cepak”

“sumpe luuu?”

“Da, nanti sore gw ga ikutan lah yah belajar kelompoknya, gw mules nih”

***

Keputusan Freya sudah bulat untuk tidak ikut kerja kelompok. Freya tidak mengerti dengan dirinya yang tib a-tiba merasa mules dan sedikit demam saat bertatap muka dengan Drey tadi pagi. Sungguh aneh, detak jantungpun jadi tidak beraturan. Sementara dida menuju perpustakaan untuk kerja kelompok, Freya memilih pulang ke kos, tidur dan memikirkan perasaanya yang amburadul hari ini. rasanya hari ini Freya tak bertenaga sedikitpun, bahkan memasukan motot ke garasi pun rasanya berat sekali. “Aduh kenapa gw jadi ga karuan begini sih gara-gara bertatapan dan melihat senyum Drey” dalam hati freya merutuk.

Tanpa sadar ada tangan lain yang berusaha mendorong motor Freya masuk garasi. Freya menoleh ke belakang. di sana sudah berdiri sosok Drey yang tanpa sadar sudah membantu Freya memasukan motor ke garasi.

“Kerja kelompok jam berapa sih?”

Entah lah kali ini Freya bisa tersenyum ringan dan bahagia ” Jam 3 kak”

Drey menarik tangan Freya melihat ke arah jam tangan yang melingkar ditangan kanannya. Jantung Freya berdesir, bahkan hampir lompat keluar.

“ini sudah jam 3, yuk kita bareng aja!” ajak Drey

Entahlah tiba tiba rasa mules dan cemas yang sedari pagi menteror Freya tiba tiba hilang saat pertama kali Drey menyentuh tangannya. Freya mengangguk setuju, lalu berusaha mengeluarkan kembali motornya. Drey mencegah “Kamu ku bonceng aja, pulangnya pasti kuantar lagi, ya?”

Tanpa menjawab, freya mengikuti langkah Drey dan sejurus kemudia Freya sudah nangkring di belakang Drey. Motor melaju membawa mereka berdua ke perpustakaan. sepanjang jalan hanya diam. sejuta rasa bergejolak dalam hati keduanya. Posisi Freya sebetulnya tidak nyaman saat dibonceng Drey. Nungging. Maklum moge model motor balap gitu. Tapi sebisa mungkin Freya tidak berpegangan pada Drey.

Tidak disangka saat memasuki halaman parkir perpustakaan bertemu dengan dida dan tian yang sudah hadir lebih dulu. Dida terbengong bengong melihat Drey datang bersama Freya satu motor pula, sejak kapan Freya yang antipati dengan cowok jadi mau dibonceng cowok?. Tidak berbeda dengan Tian diapun melongo, sebagai sahabat Drey sejak semester satu Tian tau komitmen sahabatnya untuk tidak akan memboncengkan cewek dimotornya kecuali ia jatuh cinta.

sepanjang kerja kelompok sore itu senyum manis drey dan freya tidak pernah lepas.  Dan sore itu pula Dida harus merelakan gebetannya untuk Freya, dan mungkin kejadian sore ini akan jadi berita duka untuk the “frends”

——————————-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s