UPDATE: Kriteria Klasifikasi Antiphospholipid Syndrome

UPDATE:  Kriteria Klasifikasi Antiphospholipid Syndrome

Pendahuluan

Antiphospholipid Syndrome (APS) merupakan penyebab trombophilia dapatan yang penting untuk diperhitungkan. APS ditandai dengan manifestasi klinis utama berupa trombosis baik vena maupun arteri dan pada wanita hamil berkaitan dengan kematian janin. Deteksi adanya antiphosphilipid antibody (aPL) yang persisten merupakan syarat kriteria laboratorium yang  harus ada untuk menegakkan diagnosis APS (1).

Kriteria Klasifikasi APS

Sejak ditetapkannya kriteria klasifikasi APS pada International preliminary di Sapporo pada tahun 1999 berbagai badan penelitian dan studi terhadap kriteria laboratorium maupun manifestasi klinis APS bermunculan.  Selanjutnya,  workshop pada International Congress on antiphospholipid antibody (aPL) yang ke-11 di Sidney Australia kriteria  klasifikasi  APS Sapporo dipertimbangkan masak-masak untuk direvisi. Kriteria klasifikasi APS yang telah direvisi dapat dilihat pada tabel 1 (2).

Tabel 1. Revisi Kriteria Klasifikasi APS (2)

Kriteria Klinis Kriteria Laboratorium
  1. Trombosis vaskular

Satu atau lebih episode klinis trombosis arteri, vena atau pembuluh darah kecil pada organ atau jaringan manapun.

Trombosis harus dikonfirmasi dengan kriteria obyektif yang valid (contoh temuan pasti menggunakan teknologi pencitraan yang sesuai atau histopatologi).

Untuk konfirmasi histopatologi, trombosis harus ada bukti yang signifikan tidak adanya inflamasi pada dinding pembuluh darah

  1. Lupus Antikoagulan (LA)

Terdapat LA dalam plasma pada 2 atau lebih pemeriksaan dalam rentang minimal 12 minggu, dideteksi berdasarkan guideline International Society on Thrombosis and Haemostasis (ISTH)

  1. Morbiditas Kehamilan

a)      Satu atau lebih kematian janin dengan morfologi normal  pada atau setelah usia kehamilan 10 minggu dengan morfologi normal yang didokumentasikan dengan  ultrasound atau memeriksa janin secara langsung, atau

b)      Satu atau lebih kelahiran prematur dengan morfologi normal sebelum usia kehamilan 34 minggu yang disebabkan oleh:

i)        Eklampsia atau preeklampsia berat berdasarkan definisi standar

ii)   Insufisiensi plasenta, atau

c)      Tiga atau lebih aborsi spontan yang terjadi berturut-turut, disertai kelainan anatomi dan hormon maternal, penyebab berupa kelainan kromosom maternal maupun paternal disingkirkan.

  1. Anticardiolipin antibody (ACA)

Terdapat ACA IgG dan atau IgM dalam plasma/ serum pada titer medium atau tinggi (yaitu >40GPL atau MPL, atau > 99th persentil) yang dilakukan 2 kali atau lebih dalam rentang minimal 12 minggu. Pemeriksaan diukur  menggunakan metode ELISA yang sudah terstandarisasi.

  1. Anti-β2 glycoprotein I antibody (anti- β2-GPI)

Terdapat Anti-β glycoprotein I antibody IgG dan atau IgM dalam serum/ plasma (dalam titer> 99th persentil) pada 2 atau lebih pemeriksaan yang dilakukan dalam rentang minimal 12 minggu, diukur menggunakan metode ELISA yang terstandarisasi.

Diagnosis

Klasifikasi APS tidak boleh dilakukan apabila jarak antara hasil aPL yang positif dan manifestasi klinis kurang dari 12 minggu atau lebih dari 5 tahun. Diagnosis APS ditegakkan apabila memenuhi minimal 1 kriteria klinis dan 1 kriteria laboratorium.  Adanya  aPL (LA / ACA/ anti β2-GPI)  yang menetap sangat penting dalam menegakkan diagnosis. Pada kriteria Sapporo dianjurkan rentang waktu minimal adalah 6 minggu di antara 2 pemeriksaan dengan hasil positif, pada kenyataannya tidak ada data yang mendukung validitas rentang tersebut. Oleh karena itu pada revisi kriteria klasifikasi yang baru rentang waktu minimal antara 2 hasil positif adalah 12 minggu hal tersebut untuk memastikan aPL bersifat persisten karena aPL yang berada sementara dapat menyebabkan kesalahan klasifikasi (2).

Berdasarkan revisi kriteria klasifikasi APS maka pasien APS dibedakan menjadi 2 kategori sebagai berikut:

Kategori I :

Apabila terdapat lebih dari satu pemeriksaan aPL positif

Kategori II:

IIa.  Hanya LA saja yang positif

IIb.  Hanya ACA saja yang positif

IIc.  Hanya anti β2-GPI saja yang positif

Anti-β2 glycoprotein I antibody

Anti β2-GPI merupakan pemeriksaan baru yang dimasukkan dalam kriteria laboratorium pada revisi kriteria klasifikasi APS.  Anti β2-GPI  merupakanfaktor risiko independent terhadap trombosis dan komplikasi kehamilan. Variasi interlaboratorium anti β2-GPI  lebih baik dibandingkan pemeriksaan ACA demikian pula dengan spesivisitasnya dalam menegakkan diagnosis APS. Pemeriksaan anti-β2GPI  sangat membantu menegakkan diagnosis terutama pada pasien dengan dugaan kuat namun hasil LA dan ACA negative (2).

Mekanisme protrombotik APS melibatkan disregulasi aktivasi platelet, sel endotel dan monosit oleh kompleks anti-β2-GPI/ β2-GPI yang terikat pada permukaan sel. Kompleks anti-β2-GPI/ β2-GPI terbentuk pada saat terpapar phosphatidylserine (PS) sebelum berinteraksi dengan reseptor platelet spesifik untuk menimbulkan  aktivasi protrombotik. Kompleks anti-β2-GPI/ β2-GPI juga dapat berinteraksi dengan  annexin A2 dan Toll like receptor (TLR)   yang dapat memediasi aktivasi protrombotik. Selain itu kompleks anti-β2-GPI/ β2-GPI dapat mengaktivasi monosit untuk mengekpresikan tissue factor (TF) dan berbagai sitokin proinflamasi (1).

Gambar 1. β2-GPI  menghambat produksi plasmin namun tidak menhambat aktivasi FXI

Konsep terbaru patogenesis APS menyebutkan bahwa β2-GPI  merupakan target dominan dalam patofisologi APS. Secara in vitro  β2-GPI dapat mengatur aktivitas faktor XI (FXI) dan plasminogen. β2-GPI mampu mengikat FXI secara langsung sehingga mencegah aktivasi FXI oleh trombin dan faktor XIIa. β2-GPI yang terikat (c β2-GPI) dengan plasmin pada bagian Lys317-Thr318 dapat mengikat FXI namun tidak dapat menghambat aktivitas FXI. cβ2-GPI dapat secara langsung mengikat plasminogen dan menghambat konversi plasmin oleh tPA, sehingga diduga β2-GPI berpotensi menghubungkan fibrinolisis dan jalur FXI/trombin, dapat dilihat pada gambar 1 (1).

Penutup.

Penegakkan diagnosis APS memerlukan kecermatan dalam menilai kriteria klasifikasi APS baik kriteria klinis maupun kriteria laboratorium.  Perkembangan  penelitian-penelitian baru akan terus memberi  banyak kontribusi terhadap kemajuan diagnosis maupun manajemen APS. Sehingga bukan tidak mungkin kriteria klasifikasi saat ini yang telah direvisi akan mengalami perubahan lagi pada masa yang akan datang.

Trilis Yulianti

Rujukan

  1. Giannakopoulos B, Passam F, Rahgozar S and Krilis SA. Current concepts on the oathogenesis of the antiphospholipid syndrome. Blood 2007; 109: 422-430.
  2. Miyakis S, Lockshin MD, Atsumi T et al. International concensus statement on an update of the classification criteria for definite antiphospholipid syndrome (APS). J Thromb Haemost 2006; 4: 295-306.

Tulisan ini telah di muat dalam INFOLAB NO 05/2007 code:3811

2 thoughts on “UPDATE: Kriteria Klasifikasi Antiphospholipid Syndrome

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s