Semua orang tidak suka dibanding bandingkan, setuju? Kalo tidak suka dibanding bandingkan jangan membanding bandingkan.

Tak dpt dielak selama kosa kata itu ada maka yang namanya banding akan tetap ada. Mungkin tidak masalah jika membandingkan yang sebanding atau istilah kerennya apple to apple. Bahasa sederhananya kalo ingin membandingkan apel ya sama apel, itu fair. Jangan membandingkan apel dengan bengkoang, it’s not fair!

Konflik pendapat biasanya muncul saat perbandingan terjadi antara apple to bengkoang! Masalah tambah rumit lagi ketika yg membandingkan tidak sadar yg dibandingkan bukan sesama apel.

Ketika membandingkan 2 hal maka idealnya kita harus mengendalikan faktor faktor yg membuat perbandingan menjadi bias.

Kita lihat contoh perbandingan yang tidak apple to apple.

Si A seorang ibu rumah tangga, lulusan SMA memiliki 3 orang anak, suaminya bekerja sebagai satpam di suatu pabrik.

Si B seorang ibu rumah tangga, lulusan SMA memiliki 3 orang anak, sebelum menikah ia artis terkenal lalu menikah dengan anak konglomerat. Muncul berita di infotainment artis B baru melahirkan dan temen artis B komentar kalo si B itu baik, simple ngerawat diri, ngga ribet sama anak, anak dibebaskan.

Lalu si A ngomel2 melihat tayangan itu tidak terima dg artis B dan mengulik ” gimana ribet tiap anak punya baby eittter masing masing, pembantu banyak ada yg bagian setrika, nyuci, masak, ngepel semua ada yg ngerjain ya pasti ngga ribet, cantik dan awet muda!!”

Cape sendiri kan jika membandingkan yg tidak setara.

Contoh lain

Sebut C ia adalah lajang usia 30an,  punya hobby traveling, sosmednya penuh dengan foto foto traveling. Si A berteman dengan C di FB. Setiap melihat postingan C ia selalu komentar “jalan jalan terus ya” atau “duitnya ngga berseri ya”  atau “gw mana bisa kaya lo jalan jalan mulu”  lama lama komentarnya sadis “tolong ngga usah posting posting foto jalan jalan, bikin panas orang aja”

Padahal si A ini sering sekali upload foto kebersamaan dengan anak2nya dengan suaminya. Terlihat harmonis dan bahagia. Mestinya A ini bersyukur memiliki kebahagiaan berupa anak yg sholeh dan suami yang setia.

A tidak pernah tau bahwa D mungkin saja dulu D pernah melewati masa suram seperti dihianati suaminya, atau kehilangan anaknya ketika masi dikandungya. Dan saat ini adalah hadiah dari Tuhan karena D telah berhasil melewati masa sulit dengan baik. Tuhan sudah adil untuk D yg tidak memiliki keluarga seperti A, Tuhan beri si A rejeki dan kesempatan lebih banyak untuk bisa jalan- jalan keliling dunia, punya karir yang bagus, kesehatan yang baik dll. Karena Tuhan yang paling tau bagaimana membahagiakan ciptaannya.

Buat A, Ingatlah setiap orang memiliki kebahagiaan masing masing dimana kebahagiaan itu tidak dapat dikalibrasi dengan kebagiaan orang lain. Pandai pandailah bersyukur, syukuri kebahagian karena memiliki anak memiliki suami yag setia. Dan seandainya A sadar bisa saja upload foto2 lucu anaknya menyakiti orang di luar sana yg baru kehilangan anak, mengumbar foto foto mesra dengan suami bisa saja meninbulkan kesedihan teman teman A yg baru ditinggal meninggal suaminya atau yg divorce.

Contoh lagi…

Si D adalah adik si A, si D ini sejak lahir sudah diberikan ke orang lain. Mereka tidak pernah dibesarkan bersama. Ketika A dan D sudah dewasa identitas D diberitahukan.  Meski D saat bayi diberikan ke oranglain yg ekonominya kurang beruntung namun D tumbuh jadi anak yg pintar sehingga dengan mudah masuk sekolah favorit dan mendapat beasiswa. Selesai kuliah D mendapat pekerjaan bagus dengan gaji besar. Si A kembali membandingkan si D dengan adik suaminya sebut dia E. Sejak kecil E dirawat oleh suami A dibiayai sekolahnya hingga sarjana. Tentu wajar jika ketika telah bekerja E menganggap anak anak A seperti anak sendiri karena E juga telah begitu banyak diberi perhatian baik material maupun non material dari suami si A.sejak dia kecil. Sebut itu circle, lingkaran kasih sayang.

Sangat tidak adil jika A membandingkan D dengan E. Karena D dan E tidak apple to apple.

Mulai bingung dengan ABCDE pilihan ganda? Hahaha…intinya jangan suka membanding bandingkan, ya kalopun mau membuat perbandingan maka singkirkan dulu faktor perancunya sebab nanti hasilnya bias.

So kamu itu A, B, C , D atau E?

Apapun kamu berhentilah membandingkan dirimu dengan orang lain just be the best version of yourself and be thankful whatever you are.

Berhentilah menuntut orang lain untuk bersikap seperti apa yang kamu mau. You can’t control others -what they do, what they think about,- but you can control your attitude.

Advertisements